Hrr Basuki Mawa Bea
04 Apr 2008 1 Komentar
Membaca kembali pertunjukan teater dari Studio Teater PPPPTK Seni dan Budaya(d/h:PPPG Kesenian) Yogyakarta yang dipergelarkan di auditoriumnya yang megah di dusun Klidon, Besi, Ngaglik Sleman Yogyakarta (Jalan Kaliurang KM 13,5) malam jum’at tanggal 1 november 2007, pukul 20.00 waktu setempat Lagi
Nonton Peron di Tedjokusumo
23 Des 2007 3 Komentar
Seorang kawan mengajakku ke Stage Tari Tedjakusuma FBS UNY buat nonton pertunjukan teater dari komunitas Peron, FKIP UNS. Ada tiga alasan utama aku mengharuskan diri hadir ditempat itu, pertama adalah naskah Arifin Chairin Noer yang ini secara pribadi cukup menggedor rasa penasaranku. Yang kedua, Peron adalah teater berbasis kampus, sesuatu yang sedang dan akan kuperjuangkan keberadaannya sampai kapanpun. Yang terakhir adalah stage tempat mereka pentas kali ini adalah satu ruang yang sangat bernilai sejarah bagi kehadiranku di wilayah kesenian Lagi
The Greatest Of Woman Oriented minta maaf pada para korban keganasan Love Meter
06 Des 2007 Tinggalkan sebuah Komentar
in sketsa kata
Merenung sendirian di kamar kawan dalam malam-malam menjelang sahur tiba. Tiba-tiba saja nuraniku meronta dan mencubiti bathinku untuk sesegera mungkin melantunkan permohonan maaf setulusnya kepada semua dan siapapun saja handai tolan serta kawan-kawan “korban” keisenganku melalui Love Meter Lagi
Jalanjalan sekitar ABAYO
06 Des 2007 2 Komentar
Satu siang sepulang dari Jakarta yang penat dan panas berdebu, kakiku melangkah ke FSB UTY (d/h ABAYO), bertemu dengan beberapa personel
Teater ADA yang naga-naganya (meminjam istilah Om Yos/SuharyosoSK_KaJur pertama Jurusan Teater ISI Jogja) sedang mempersiapkan produksi teater untuk kesekian kalinya. Bocoran yang kuterima dari beberapa kawan teater di Jogja tentang Teater ADA ini memang cukup membuat bahagia Lagi
Mix-max buat Vladimir Vodka
06 Des 2007 2 Komentar
in sketsa kata
Bersama Caroline Rika Sang Pencelup aku habiskan malam di “V art gallery” yang terletak di seberang Kali Gadjah Wong nan ternama yang melintas membelah kota Jogja itu. Kami sengaja hadir disana dalam acara pembukaan pameran video art. Hingar bingar pestapun tak terelakkan. Apalagi kami cukup lega tatkala memasuki ruang utama, kami jumpai dimeja tersedia berlimpah kudapan yang cukup mengganjal rasa lapar yang sebelumnya cukup kami kamuflase dengan beberapa teguk Lagi
Rekonstruksi Bib-bob
06 Des 2007 Tinggalkan sebuah Komentar
Nonton rekonstruksi bib-bob di Auditorium Jurusan Teater ISI jogjakarta di hari ulang tahun mas Willy. Deretan kursi penonton dipadati oleh pengunjung teater lintas generasi. Ada generasinya Papi Moortri Purnomo, Masroem bara, bang Azwar AN, Mas Fajar Suharno, Om Yos (Suharjoso sk), Mas Edo, mbak Rina Asdrafi, Mas Untung Basuki sampai generasinya Lagi
Studio Pertunjukan Sastra
06 Des 2007 Tinggalkan sebuah Komentar
Sebenarnya sudah cukup lama Mas Hari Leo mengajakku untuk hadir dalam acara bulanan yang diberi tajuk bincang-bincang sastra. Namun baru di edisi kesembilan sore itu aku sempat hadir kesana. Bisa jadi karena nama besar Darmanto Yatman ikut merangsang kakiku bergerak ke ruang Lagi
Sabda Sang Stanis
28 Nov 2007 4 Komentar
Pada pagi yang bergegas menjemput siang, Al Stanis yang dimuliakan Tuhan dengan pakaian compangcamping kebesarannya, Nampak menyeruput secangkir kopi pahit dan menghisap dalam-dalam sisa puntung rokok kreteknya semalam. Duduk bersandar pada sebatang pohon tua di pinggir jalan yang bersebelahan dengan sungai yang mengalir serupa cofeemix Lagi
Naskah Lama
28 Nov 2007 Tinggalkan sebuah Komentar
in sketsa kata
Bersih-bersih rumah pagi ini, kutemukan sesuatu yang tercecer dan hampir saja musnah. sesobek kertas, yang ternyata bagian dari naskah lamaku yang kutulis sekitar tahun 90an. Bisa jadi ia belum pernah dipentaskan dan memang tidak akan pernah dipentaskan. Karena yang kutemukan hanyalah sesobek kertas maka sampai kini tak kukenali lagi apa judulnya dan bagaimana dramatic personaenya.
Baiklah kukutipkan bagian yang tersisa dan masih bisa terbaca ini, semoga tak menjadi sia-sia…
Karena naskah ini ditulis puluhan tahun yang lalu, jadi mohon maaf kalo kelihatan JaDul banget hehehe.
+ : Nama kamu siapa?
- : Ajar Sinau. Lha tuan sendiri siapa?
+ : Itu tidak penting.
- : Bagi saya tak ada yang tidak penting. Dan saya berurusan dengan hal-hal penting. Yang tidak penting bukanlah urusan saya.
+ : Hmm…Lumayan. Tapi apakah artinya namaku bagi sesuatu yang kau anggap penting itu?
- : Namamu jauh lebih penting. Mengingat pertama kamu hadir dihadapanku dan mustahil kehadiranmu tanpa menyebutkan namamu. Kedua, soal biasa dalam tata pergaulan agar kita bisa saling bertegur sapa. Ketiga, karena aku sudah sebutkan namaku, maka…
+ : Sebelum kau lanjutkan, oke deh aku ngaku saja. Namaku Tan Panama.
- : Okelah siapapun dirimu, sekarang lantas apa tujuanmu dan sebutkan alasanmu hingga engkau berpayah-payah hadir ditempat ini?
+ : Sungguh tak kumengerti…Kenapa justru engkau yang banyak bertanya. Bukankah sejak mula telah kita sepakati bahwa akulah pihak yang bertanya dan engkau pihak yang mengelola pertanyaan-pertanyaan itu.
- : Tentu itu juga yang akan kau lakukan seandainya kita bertukar posisi.
+ : Maka menjadi jelaslah bagiku kini bahwa engkau tidak pernah sungguh-sungguh menjawab pertanyaanku.
- : Lantas apa masih perlu diperdebatkan lagi. Seandainyapun perdebatan tak juga mampu menyelesaikan persoalan.
+ : Baiklah aku tak hendak mengulangi kebodohan masa silam, dengan mengakhiri perdebatan dalam kerancuan.
- : Sebetulnya yang paling pantas disebut rancu itu ya dirimu sendiri.
+ : Sorry, no comment! Aku nggak mau bergeser kearah debat kusir yang mubadzir.
- : Okelah, sekarang maunya apa?
+ : Aku hanya ingin tahu sesungguhnya apa yang melatari setiap tindakanmu?
- : Niat untuk belajar.
+ : Belajar tentang apa?
- : Belajar segalanya, kapan saja dan dimana saja.
+ : Kamu berpikir untuk sesuatu yang besar.
- : Kamu sendiri khan yang berpikir demikian..
+ : Sedang dirimu. Tak pernahkah sekejappun terlintas untuk berpikir sesuatu yang besar?
- : he..he..he.
+ : Lha kok malah tertawa?
- : Lucu, kalau kamu masih berpikir tentang besar dan kecil.
+ : Jadi…
- : Jadi kamu mesti belajar lagi untuk berendah hati serta kesanggupan menjaga kebeningan nurani.
+ : Dengan apa?
- : Dengan banyak bertanya dan bertanya namun dengan catatan memberi ruang lebih bagi peningkatan mutu pertanyaan.
+ : Hmm…peningkatan mutu. Boleh juga! Cuma masalahnya…
- : Jangan sesekali berpikir dalam konteks “cuma”. Jangan meremehkan sesuatu dengan istilah “cuma”. Kau akan dihadapkan pada situasi yang tak pernah kau sangka-sangka, seandainya kau berpikir “cuma”. Tak ada yang diciptakan untuk menjadi “cuma”
+ : Oke deh, sorry atas keterlanjuran kata-kataku tadi.
- : Simpan kata “sorry” bagi dirimu sendiri. Dan optimalkan kesanggupan untuk melakukan sesuatu tanpa harus mengucapkan kata “sorry”.
+ : Tapi bukankah permaafan menjadi bahasa yang wajar dan asyik-asyik aja bagi pergaulan antar manusia?
- : Tapi lebih asyik lagi apabila kita mau lebih hati-hati bersikap, hingga dikemudian hari tak perlu berhutang kata “sorry”.
+ : Tapi kan kekhilafan itu manusiawi?
- : Ya, kalo berada pada saat dan tempat yang sungguh-sungguh tepat.
+ : Hmm..Luar biasa!
- : Ajar Sinau tak biasa mendapat pujian. Karena itu memang bukan haq dia. Yang paling layak mendapatkannya hanyalah DIA. Dan sorry tak kuterima pujianmu!
+ : Ha..ha..ha. Pada saatnya kau ucapkan kata “sorry” juga.
TIBA-TIBA TANPA DISADARI OLEH TAN PANAMA YANG MASIH TERGELAK SENANG, AJAR SINAU LENYAP ENTAH KEMANA. DAN ORANG-ORANGPUN SIBUK MENDUGA-DUGA, SIAPAKAH GERANGAN AJAR SINAU TADI.
SESEORANG ATAUKAH SESUATU. DAN MARILAH KITA SIBUKKAN DIRI KITA UNTUK MAKIN MENGERTI BAHWA TIDAK BISA TIDAK KITA SERING DISIBUKKAN OLEH PERTANYAAN YANG TIDAK PERLU.
KINI TAN PANAMA DIAM. MATANYA BELINGSATAN MENCARI AJAR SINAU YANG ENTAH LENYAP KEMANA. TAN PANAMA MENANGIS, AIR MATANYA MELAUT MEMBANJIRI KOTA-KOTA DAN JUGA TENTU DESA-DESA DISEKITARNYA MENYESALI KEBODOHANNYA.
sampai disini, aku sadar. Hanya sesobek memang. mungkin saja ada bagian pendahuluannya, atau mungkin juga ada sambungannya. Yang pasti, kukira ini bukan akhir dari cerita.
Jangan diketawain ya. Maklum naskah itu kutulis saat usia puber-pubernya,(21 tahun!) jadi kelihatan remaja banget kan…hehehe.
Gak papa, sebagai nostalgic romantic…sesekali. sayang emang tidak utuh lagi saat kutemukan.
Komentar Terakhir